Bulog Menyerap 660 Ton Gabah Petani untuk Stabilkan Harga Pangan

Selasa, 27 Januari 2026 | 13:17:07 WIB
Bulog Menyerap 660 Ton Gabah Petani untuk Stabilkan Harga Pangan

JAKARTA - Tahun 2026 diawali dengan kabar baik bagi petani di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, ketika Perum Bulog Cabang Singkawang berhasil menyerap 660 ton gabah dan 30 ton jagung dari hasil panen petani setempat. 

Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan petani serta memastikan stabilitas pasokan pangan di wilayah tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari komitmen Bulog untuk mendukung program swasembada pangan nasional serta menjaga kestabilan harga pangan di tingkat petani. 

Sebagai wujud dari kerjasama antara Bulog, dinas pertanian, dan TNI, penyerapan gabah ini dilakukan dengan melibatkan berbagai pihak yang bekerja secara sinergis untuk mencapainya.

Peningkatan Penyerapan Gabah Sejak Awal Tahun

Pimpinan Cabang Bulog Singkawang, Noldi Ramayadi, menyampaikan bahwa sejak pertengahan Januari 2026, Bulog Singkawang mulai melakukan penyerapan gabah dan jagung di berbagai kecamatan di Kabupaten Sambas yang telah memasuki masa panen. 

"Sejak 15 Januari, kami bersama dinas pertanian dan Kodim Sambas mulai menyerap gabah dari petani. Sampai saat ini, kami telah berhasil menyerap sekitar 660 ton gabah dan 31 ton jagung," jelas Noldi.

Program penyerapan gabah ini bertujuan untuk memberikan kepastian harga bagi petani. Bulog membeli gabah dengan harga Rp6.500 per kilogram, sesuai dengan ketentuan pemerintah yang memastikan petani mendapatkan harga yang wajar dan tidak terpengaruh oleh fluktuasi pasar yang seringkali merugikan mereka.

Polarisasi Harga Terkendali Berkat Kebijakan Bulog

Salah satu alasan utama untuk menjaga stabilitas harga gabah adalah untuk menghindari penurunan harga yang dapat merugikan petani. Di pasar bebas, harga gabah sering kali dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran yang berfluktuasi, yang kadang-kadang mengarah pada penurunan harga yang tajam. 

Dalam situasi ini, Bulog berperan penting dalam memberikan stabilitas harga di tingkat petani dengan membeli gabah sesuai dengan harga yang telah ditetapkan pemerintah.

Petani pun merasa lebih terjamin dengan adanya kebijakan tersebut. Salah satu petani asal Desa Semelagi Besar, Sartini, mengungkapkan manfaat dari adanya pembelian gabah oleh Bulog. 

"Biasanya, gabah kami hanya dibeli dengan harga sekitar Rp5.300 per kilogram di pasar. Namun, sekarang gabah kami dibeli oleh Bulog seharga Rp6.500 per kilogram dan langsung dibayar," ujarnya.

Dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasar, petani tidak hanya merasakan peningkatan pendapatan, tetapi juga mendapatkan kepastian untuk hasil panennya. Kebijakan ini membantu petani untuk tidak terjebak dalam ketidakpastian harga pasar, yang seringkali membuat mereka kesulitan untuk menjual hasil panen.

Sinergi dalam Penyerapan Gabah yang Efektif

Salah satu kunci sukses dari program penyerapan gabah ini adalah sinergi yang terjalin antara Bulog, dinas pertanian, TNI-Polri, serta pemerintah daerah. 

Sinergi ini tercermin dalam pola penyerapan gabah yang dilakukan dengan sistem "jemput bola", di mana tim Bulog bersama dengan Babinsa (Bintara Pembina Desa) dari Kodim Sambas serta penyuluh pertanian lapangan (PPL) turun langsung ke desa-desa tempat sentra produksi gabah.

"Tim kami bekerja sama dengan PPL, Babinsa, dan pemerintah desa untuk mengetahui desa mana yang sudah mulai panen. Dengan sistem jemput gabah ini, petani tidak perlu repot mencari tempat untuk menjual hasil panennya. Kami langsung mendatangi mereka," jelas Noldi.

Pola jemput gabah ini juga memastikan penyerapan gabah bisa dilakukan dengan cepat, mengurangi beban petani yang mungkin kesulitan mencari pembeli atau mendapat harga yang wajar di pasar.

Manfaat Langsung untuk Petani dan Ekonomi Lokal

Adanya penyerapan gabah yang lebih baik oleh Bulog juga membawa manfaat langsung bagi perekonomian lokal. Petani mendapatkan keuntungan yang lebih besar, dan yang lebih penting, mereka mendapatkan kepastian dalam proses jual beli gabah. 

Keberlanjutan penyerapan gabah oleh Bulog juga berpotensi meningkatkan keberdayaan ekonomi masyarakat desa. Hal ini berdampak positif pada stabilitas sosial-ekonomi masyarakat, terutama bagi petani kecil yang bergantung pada sektor pertanian sebagai sumber pendapatan utama.

Selain itu, dengan adanya pembelian langsung oleh Bulog, petani juga bisa menghindari praktik penurunan harga yang tidak adil yang sering terjadi di pasar. Proses pembayaran yang cepat dan langsung juga memberikan kepastian bagi petani untuk merencanakan kebutuhan ekonomi mereka.

Target Penyerapan Gabah dan Jagung dalam Rangka Swasembada Pangan

Penyerapan gabah dan jagung oleh Bulog Singkawang merupakan bagian dari upaya besar yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia dalam rangka mewujudkan swasembada pangan. 

Program ini tidak hanya bertujuan untuk menjaga kestabilan harga pangan di tingkat petani, tetapi juga untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan pangan tertentu.

Swasembada pangan menjadi salah satu prioritas nasional yang diharapkan bisa meningkatkan ketahanan pangan dan menciptakan kemandirian di sektor pertanian. Dalam hal ini, Bulog berperan sebagai lembaga yang mengelola dan menyerap hasil pertanian untuk menjaga keseimbangan pasokan pangan di seluruh Indonesia, termasuk di Kalimantan Barat.

Keberlanjutan Program dan Tantangan ke Depan

Meskipun program penyerapan gabah dan jagung di Singkawang berjalan dengan lancar, tantangan masih tetap ada. Salah satunya adalah kebutuhan untuk memastikan program ini tetap berlanjut dan dapat menjangkau lebih banyak petani di daerah lainnya. Keberlanjutan program ini memerlukan perhatian yang serius dari semua pihak, baik dari pemerintah, Bulog, serta sektor pertanian itu sendiri.

Selain itu, dengan adanya perubahan iklim yang dapat mempengaruhi hasil pertanian, Bulog juga perlu memperhatikan faktor-faktor eksternal yang dapat memengaruhi jumlah dan kualitas hasil panen petani. 

Di sisi lain, menjaga ketersediaan gabah di pasar lokal juga memerlukan pengelolaan yang tepat agar tidak terjadi kekurangan pasokan yang berisiko mengganggu stabilitas harga.

Penyerapan gabah dan jagung oleh Bulog Singkawang di awal tahun 2026 memberikan dampak positif bagi petani di Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Dengan harga pembelian yang lebih menguntungkan dan sistem penyerapan yang efisien, petani merasakan manfaat langsung dari kebijakan ini. 

Sinergi antara berbagai pihak, termasuk Bulog, dinas pertanian, TNI-Polri, serta pemerintah daerah, menjadi kunci utama dalam menjaga keberhasilan program ini. Ke depan, diharapkan penyerapan gabah dan jagung oleh Bulog dapat terus berlanjut untuk mendukung swasembada pangan dan kesejahteraan petani di Indonesia.

Terkini