JAKARTA - Menjelang Idulfitri 2026, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memastikan bahwa industri manufaktur, khususnya sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) serta alas kaki, siap menghadapi lonjakan permintaan masyarakat.
Kapasitas produksi nasional diklaim cukup untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik, sehingga masyarakat dapat memperoleh produk berkualitas dengan harga wajar dan tepat waktu.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita, menekankan koordinasi intensif dengan pelaku usaha dan asosiasi industri.
“Momentum Ramadan dan Idulfitri selalu diikuti peningkatan konsumsi produk tekstil dan alas kaki. Berdasarkan koordinasi kami dengan pelaku usaha dan asosiasi industri, kapasitas produksi nasional saat ini berada dalam kondisi optimal dan siap memenuhi kebutuhan tersebut,” ujarnya.
Fokus pemerintah saat ini tidak hanya pada produksi, tetapi juga memastikan distribusi berjalan lancar dan tidak terjadi kelangkaan produk. Hal ini menjadi perhatian serius karena sektor ini menyangkut jutaan tenaga kerja dan kontribusi ekonomi yang signifikan.
Pertumbuhan Industri dan Penyerapan Tenaga Kerja
Data industri 2025 menunjukkan bahwa sektor tekstil dan produk tekstil mencatat pertumbuhan sebesar 3,55 persen, menegaskan daya tahan sektor ini di tengah dinamika ekonomi nasional.
Kontribusi sektor padat karya ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 0,97 persen, menjadikannya salah satu penggerak ekonomi utama.
Direktur Industri Tekstil, Kulit, dan Alas Kaki Kemenperin, Rizky Aditya Wijaya, menyoroti fungsi sosial ekonomi industri TPT. Penyerapan tenaga kerja mencapai 3,96 juta orang per Agustus 2025, naik dibanding Februari 2025 yang tercatat 3,76 juta orang.
“Hal ini membuktikan industri tekstil masih menjadi tulang punggung utama penyerapan tenaga kerja,” ujar Rizky.
Peningkatan jumlah tenaga kerja tidak hanya menunjukkan pertumbuhan industri, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama di sektor padat karya yang menyediakan lapangan pekerjaan bagi berbagai kalangan.
Langkah Strategis Pemerintah Mendukung Industri
Pemerintah melakukan beberapa langkah strategis untuk memastikan industri TPT dan alas kaki dapat memenuhi permintaan menjelang Idulfitri.
Monitoring kapasitas produksi dan penguatan pasokan bahan baku menjadi prioritas utama, diikuti koordinasi distribusi dan logistik agar barang sampai ke tangan konsumen dengan lancar.
Selain itu, pengawasan terhadap praktik impor pakaian bekas ilegal diperketat untuk melindungi pelaku industri kecil dan menengah.
“Ini penting untuk menjaga keberlangsungan industri tekstil nasional serta memberikan ruang lebih besar kepada produk dalam negeri,” ujar Rizky.
Langkah ini sekaligus menjaga stabilitas harga dan kualitas produk lokal, sehingga konsumen mendapat manfaat maksimal.
Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) melaporkan adanya peningkatan produksi busana muslim dan kain sarung sejak awal 2026. Tren ini sejalan dengan permintaan meningkat menjelang Idulfitri, khususnya pakaian anak hingga alas kaki kasual. Pelaku usaha lokal siap memenuhi kebutuhan ini dengan kapasitas produksi yang optimal.
Peran Industri Tekstil dan Alas Kaki untuk Ekonomi Nasional
Industri tekstil dan alas kaki memiliki peran strategis dalam mendukung ekonomi nasional. Selain kontribusi terhadap PDB, sektor ini menjadi penyerap tenaga kerja besar, yang saat ini mencapai hampir 4 juta orang.
Lonjakan tenaga kerja menjelang momen konsumsi tinggi seperti Ramadan dan Idulfitri menunjukkan sektor ini menjadi penggerak utama ekonomi padat karya.
Koordinasi antara pemerintah, asosiasi industri, dan pelaku usaha terus diperkuat. Hal ini memastikan produksi, distribusi, dan ketersediaan produk berjalan lancar.
Dengan pengawasan ketat terhadap impor ilegal, industri TPT domestik memiliki ruang untuk berkembang, meningkatkan kualitas produk, dan menjaga keberlanjutan sektor manufaktur nasional.
Menteri Perindustrian menekankan optimisme pemerintah bahwa sektor tekstil dan alas kaki dapat menghadapi lonjakan permintaan dengan baik.
“Industri tekstil dan alas kaki siap menghadapi lonjakan permintaan Idulfitri dengan kapasitas produksi optimal dan koordinasi yang baik dengan pelaku usaha,” kata Agus.
Kesiapan industri ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, menjaga stabilitas sosial, serta meningkatkan daya saing produk dalam negeri di pasar nasional maupun internasional.