BSI

BSI Optimistis Bisnis Emas Jadi Motor Pertumbuhan Baru Perbankan Syariah

BSI Optimistis Bisnis Emas Jadi Motor Pertumbuhan Baru Perbankan Syariah
BSI Optimistis Bisnis Emas Jadi Motor Pertumbuhan Baru Perbankan Syariah

JAKARTA - Perkembangan investasi emas di sektor perbankan syariah mulai menunjukkan tren yang semakin kuat. 

Seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap logam mulia sebagai instrumen investasi, sejumlah lembaga keuangan turut memperluas layanan berbasis emas untuk menjangkau lebih banyak nasabah. Salah satu institusi yang aktif mengembangkan sektor ini adalah Bank Syariah Indonesia (BSI).

Dalam beberapa waktu terakhir, aktivitas transaksi emas di BSI menunjukkan peningkatan yang signifikan. Hal ini tidak terlepas dari strategi perseroan yang mulai menempatkan bisnis emas sebagai salah satu pilar utama pertumbuhan. 

Dengan dukungan layanan digital dan inovasi produk, bank syariah terbesar di Indonesia ini mencoba memperkuat posisinya di industri bullion banking.

Bisnis emas mulai menjadi salah satu motor pertumbuhan baru bagi Bank Syariah Indonesia (BSI). Sejak mendapatkan izin usaha bullion bank, transaksi emas di bank syariah terbesar di Indonesia ini menunjukkan pertumbuhan yang pesat.

Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo mengatakan, sepanjang 2025 BSI mencatatkan transaksi emas sekitar 4 ton. Angka tersebut cukup besar mengingat perseroan masih tergolong pemain baru di bisnis emas.

“Kalau dibandingkan dengan Pegadaian mungkin tidak terlalu besar, tetapi bagi kami ini sangat besar karena baru memulai,” ujarnya.

BSI Kian Agresif Garap Bisnis Emas

Menariknya, dalam dua bulan pertama 2026, transaksi emas BSI sudah mencapai sekitar 2,7 ton. Dengan tren tersebut, perseroan optimistis volume perdagangan emas tahun ini bisa meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan tahun lalu.

Anggoro menilai, meningkatnya transaksi emas juga berdampak positif terhadap pertumbuhan nasabah BSI. Pada 2025, jumlah nasabah bank ini bertambah sekitar 2 juta orang, tertinggi sejak BSI terbentuk dari merger tiga bank syariah pada 2021.

Dari total tambahan nasabah tersebut, sekitar 500.000 di antaranya berasal dari nasabah tabungan emas.

Menurut Anggoro, kehadiran produk emas membuat BSI kini memiliki dua mesin pertumbuhan bisnis atau dual engine. Selain sebagai bank syariah, BSI juga mengembangkan bisnis emas sebagai pilar baru.

“Sekarang kami punya dua engine, pertama bank syariah, kedua golden bank,” jelasnya.

Selain memperluas basis nasabah, bisnis emas juga berkontribusi terhadap peningkatan pendapatan berbasis komisi atau fee based income (FBI) BSI. Pertumbuhan FBI bank ini tercatat sekitar 25% secara tahunan, salah satunya ditopang oleh transaksi emas.

Kinerja Keuangan BSI Tetap Solid

Secara keseluruhan, BSI mencatatkan kinerja yang solid pada 2025. Total aset bank mencapai sekitar Rp 496 triliun atau tumbuh 14% secara tahunan. Sementara pembiayaan juga tumbuh 14% dan dana pihak ketiga (DPK) meningkat 16% menjadi Rp 380 triliun.

Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa strategi pengembangan bisnis yang dilakukan BSI mampu memberikan dampak positif terhadap kinerja perusahaan. Selain fokus pada pembiayaan syariah, bank ini juga terus memperluas layanan investasi bagi nasabah.

Anggoro menambahkan, produk tabungan emas juga mendorong peningkatan dana simpanan nasabah. Nasabah yang membuka tabungan emas cenderung tetap menempatkan dana di tabungan sambil menunggu momentum pembelian emas.

“Ketika harga emas naik, nasabah tidak menjual seperti di saham. Justru mereka beli lagi,” kata Anggoro.

Fenomena ini menunjukkan bahwa emas masih dipandang sebagai instrumen investasi yang relatif aman oleh masyarakat. Selain itu, kecenderungan untuk membeli kembali emas saat harga naik juga menjadi indikasi tingginya kepercayaan terhadap nilai jangka panjang logam mulia tersebut.

Penguatan Layanan Digital Melalui Aplikasi

Dalam mendukung pertumbuhan bisnis emas, BSI juga memperkuat layanan digital melalui aplikasi BYOND by BSI yang memungkinkan masyarakat membeli, menjual, hingga menggadaikan emas secara digital.

Melalui aplikasi tersebut, masyarakat bahkan dapat membeli emas mulai dari sekitar Rp 50.000.

Kemudahan transaksi digital ini menjadi salah satu faktor yang mendorong meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi emas. Dengan nominal pembelian yang relatif kecil, masyarakat dapat mulai berinvestasi tanpa harus menyiapkan dana besar.

Digitalisasi layanan juga memberikan kemudahan akses bagi nasabah yang ingin melakukan transaksi kapan saja tanpa harus datang langsung ke kantor cabang. Hal ini menjadi strategi penting dalam menjangkau generasi yang lebih akrab dengan teknologi.

Generasi Muda Mulai Tertarik Investasi Emas

Menariknya, BSI juga mulai menyasar generasi muda sebagai target pasar. Saat ini porsi nasabah generasi Z dalam tabungan emas meningkat dari sekitar 24% pada 2024 menjadi sekitar 32%.

Menurut Anggoro, tren ini menunjukkan meningkatnya literasi investasi di kalangan anak muda.

“Selama ini emas sering dianggap investasi orang tua. Sekarang anak muda mulai tertarik karena bisa beli dengan nominal kecil melalui aplikasi,” katanya.

Perubahan pola investasi ini menunjukkan bahwa generasi muda mulai memanfaatkan teknologi digital untuk mengakses berbagai instrumen keuangan, termasuk emas.

Ke depan, BSI juga mendorong pemanfaatan emas dalam berbagai kebutuhan transaksi, termasuk fitur transfer emas hingga pemberian bonus karyawan dalam bentuk emas.

"Dengan berbagai inovasi tersebut, BSI optimistis bisnis emas akan semakin memperkuat inklusi keuangan sekaligus menjadi sumber pertumbuhan baru bagi perseroan," tandasnya.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index