JAKARTA - Bagi pemula, langkah awal dalam dunia investasi seringkali membingungkan.
Salah satu strategi yang aman adalah memilih investasi jangka pendek, terutama untuk kebutuhan finansial yang cair dalam waktu kurang dari satu tahun, seperti dana darurat, biaya liburan, atau uang muka rumah.
Pada Selasa, 20 Januari 2026, tersedia berbagai instrumen investasi jangka pendek yang aman, likuid, dan menguntungkan. Dengan memahami karakteristik masing-masing, investor pemula bisa membuat keputusan yang tepat tanpa risiko berlebihan.
Memahami Investasi Jangka Pendek
Investasi jangka pendek adalah penempatan dana dengan tujuan mendapatkan keuntungan dalam kurun waktu relatif singkat, biasanya kurang dari satu tahun.
Karakteristik utama investasi jangka pendek meliputi:
Likuiditas Tinggi: Dana mudah dicairkan kapan saja tanpa penalti signifikan.
Risiko Rendah hingga Menengah: Potensi kerugian relatif kecil dibanding saham atau reksa dana ekuitas.
Return Moderat: Keuntungan stabil, walau tidak setinggi investasi jangka panjang.
Modal Terjangkau: Bisa dimulai dari nominal kecil, mulai dari Rp10.000 hingga Rp1 juta.
Instrumen jangka pendek ideal untuk menempatkan dana yang tidak ingin dipakai secara langsung, sekaligus melindungi nilai dari inflasi.
5 Pilihan Investasi Jangka Pendek untuk Pemula di 2026
1. Reksa Dana Pasar Uang (RDPU)
RDPU cocok bagi pemula karena risiko rendah dan dikelola oleh manajer investasi profesional. Dana ditempatkan pada instrumen pasar uang seperti deposito, Sertifikat Deposito, dan Surat Berharga Negara (SBN) jangka pendek.
Modal awal sangat terjangkau, mulai dari Rp10.000 di platform digital OJK. Return rata-rata 3-5% per tahun dengan pencairan 1-2 hari kerja. Kelebihan RDPU: risiko rendah, NAV cenderung stabil, likuiditas tinggi, dan diversifikasi otomatis. Kekurangannya, return lebih rendah dibanding instrumen lain, meski risiko kerugian sangat kecil.
Menurut OJK per Januari 2026, total dana kelolaan industri reksa dana Indonesia mencapai Rp620 triliun dengan lebih dari 12,5 juta investor.
2. Deposito Berjangka
Deposito adalah instrumen klasik dengan keamanan tinggi, bunga tetap, dan dijamin LPS hingga Rp2 miliar per nasabah per bank. Bank BUMN menawarkan suku bunga 2,25-3% per tahun, sedangkan bank digital bisa memberikan 4-7%. Minimal setoran bervariasi, mulai dari Rp100.000 hingga Rp10 juta.
| Bank | Bunga / Tahun | Minimal Setoran |
|---|---|---|
| Mandiri | 2,25%-2,50% | Rp1 juta (via Livin’) |
| BRI | 2,50%-3,00% | Rp5 juta (via BRImo) |
| BNI | 2,25%-2,75% | Rp5 juta |
| BCA | 2,50%-3,00% | Rp10 juta |
| Digital (Jago/Blu) | 4%-7% | Rp100.000-Rp1 juta |
Kelebihan deposito: return pasti, proses mudah, dijamin LPS. Kekurangan: dana terkunci selama tenor, bunga BUMN relatif rendah, pajak 20% untuk deposito di atas Rp7,5 juta.
3. Emas Digital
Investasi emas kini mudah melalui platform digital dengan modal mulai Rp50.000. Emas dikenal sebagai safe haven, nilainya stabil dan tahan inflasi. Platform seperti Pegadaian Digital dan Tokopedia Emas mempermudah transaksi instan tanpa khawatir penyimpanan fisik.
Kelebihan: nilai cenderung naik, likuiditas tinggi, modal terjangkau, aman dari pencurian. Kekurangan: harga bisa fluktuatif jangka pendek, ada selisih harga beli-jual, tidak memberikan passive income.
4. Surat Berharga Negara (SBN) Ritel
SBN Ritel, seperti ORI, SBR, Sukuk Ritel, Sukuk Tabungan, diterbitkan pemerintah. Pembayaran pokok dan kupon dijamin 100%, menjadikan instrumen ini sangat aman. Kupon biasanya 5-7%, pajak kupon 10%. Minimal pembelian Rp1 juta, tenor 2-4 tahun.
| Jenis SBN | Kupon | Tenor | Minimal Pembelian |
|---|---|---|---|
| ORI | 5-6% | 3 tahun | Rp1 juta |
| SBR | 5-7% (floating) | 2-4 tahun | Rp1 juta |
| Sukuk Ritel | 5-6% | 3 tahun | Rp1 juta |
| Sukuk Tabungan | 5-7% (floating) | 2 tahun | Rp1 juta |
Kekurangan: hanya tersedia saat masa penawaran tertentu, tenor lebih panjang. Investor dapat memanfaatkan pasar sekunder untuk menjual ORI atau Sukuk Ritel sebelum jatuh tempo.
5. Peer-to-Peer (P2P) Lending
P2P Lending menghubungkan lender dengan peminjam UMKM. Imbal hasil tinggi, 8-15% per tahun, tetapi risiko gagal bayar lebih besar dibanding instrumen lain. Modal awal terjangkau, Rp100.000, tenor fleksibel 3-12 bulan.
Kelebihan: return tinggi, membantu UMKM. Kekurangan: tidak dijamin LPS, risiko gagal bayar. Tips aman: gunakan platform terdaftar OJK, diversifikasi dana, pilih peminjam dengan credit scoring baik.
Perbandingan Investasi Jangka Pendek
| Instrumen | Return | Risiko | Modal Awal | Likuiditas |
|---|---|---|---|---|
| RDPU | 3-5% | Rendah | Rp10.000 | Sangat Tinggi |
| Deposito | 2,5-7% | Sangat Rendah | Rp1 juta | Rendah (terkunci) |
| Emas Digital | Fluktuatif | Rendah-Menengah | Rp50.000 | Tinggi |
| SBN Ritel | 5-7% | Sangat Rendah | Rp1 juta | Menengah |
| P2P Lending | 8-15% | Menengah-Tinggi | Rp100.000 | Rendah (terikat tenor) |
Tips Investasi Jangka Pendek untuk Pemula
Kenali Profil Risiko: RDPU/deposito untuk yang anti-rugi, emas/P2P untuk yang tahan fluktuasi.
Pastikan Platform Terdaftar OJK: Keamanan dana penting.
Diversifikasi Dana: Sebar dana di beberapa instrumen untuk kurangi risiko.
Gunakan Dana “Dingin”: Jangan pakai uang kebutuhan sehari-hari.
Mulai dari Nominal Kecil: Belajar bertahap, misal Rp100.000 per bulan.
Informasi dan Referensi Resmi
OJK: 157 atau www.ojk.go.id
LPS: www.lps.go.id
Kemenkeu (SBN): www.kemenkeu.go.id/sbn
Memulai investasi jangka pendek bagi pemula tidak rumit. RDPU dan emas digital menawarkan modal kecil dan risiko rendah, sedangkan deposito dan SBN cocok untuk keamanan dan return pasti.
Kuncinya adalah memulai sekarang, karena pengalaman dan waktu akan menambah pemahaman investasi.